Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 18 Oktober 2011

SUFI dalam HAJI KITA

Gemerlap kehidupan duniawi yang melanda ummat Islam pada abad awal kejayaan dan zaman keemasan peradaban muslim, membuahkan kerinduan sekelompok ummat untuk memusatkan dirinya pada ibadah, tidak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal bahkan kedudukan , kekuasaan. Mereka lebih memusatkan diri pada jalur kehidupan dan gaya hidup yang asketis dan zuhud. diantara tokoh-tokoh sufi pada zaman ini adalah Hasan al-Bashri (meninggal pada 110 H) , Rabi’ah al-Adawiyah (meninggal pada 185 H). Sufyan -al-Tsauri . Sejak abad ketiga Hijriyah para tokoh sufi mulai menaruh perhatian pada hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku, ditandai dengan moral yang karakteristik, sehingga tasawuf berkembang menjadi ilmu moral keagamaan. Mulai lah dibahas hubungan Dzat Ilahi dengan manusia, kemudian disusul perbincangan tentang fana’ , khususnya oleh Abu Yazid Al Bustami. Dari sinilah tumbuh pengetahuan tentang sufi yang kita kenal sekarang ini dengan sufisme dengan berbagai corak dan warnanya..
Pada gaya hidup yang demekian ini ibadah menjadi bukan sekenar menunaikan kwajiban yang harus dikerjakan tunai untuk mendapatkan pahala dan balasan surga kelak, namun memiliki makna yang lebih dinamis sebagai pencapaian kemulyaan penghambaan diri kepada Tuhan yang tiba gilirannya mampu meraih kemulyaan dan kenikmatan lezatnya hidupini tidak hanya maya duniawi ah namun sekaligus pencapaian kebahagian abadi . Demikian pula ketika ibadah haji kita kerjakan. Orang sufi memandangnya tidak sekedar menunaikan dan memenuhi sayarat wajib dan rukunnya belaka. Maka seorang yang beribadah haji harus mampu memberikan makna yang hakiki sebagai pembersihan diri dan pedekatn diri kepada tuhan, mukasyafah menyaksikan akan kebesaran Tuhan dalam ibdahnya, Ky Ikhsan al Jampasi seoranf kyai Jampes Kediri,yang namanya mendunia atas karya besarya menjelaskan kitab Minhaj alBidin kara Al Ghazali yaitu kitab SyirojuTholibin, menjelaskan berlaku sufi ukannya pergi meninggalkan keramai duniawi namun sebaliknya mereka harus mampu membersihkan dirinya dari hal hal duniawi meskipun mereka dalam keramaian dan hiruk pikuk penyelenggaraan dan kehidupan masyarakat yang dihadapi saat ini …..dan pada ibadah haji ini dapat kita lihat seperti dialog al Junaid al Bagh dadi dengan seorang tamunya seperti yang disitir oleh al Hajwiri dalam kitabnya Kasyful Mahjub di nukilkan sebagai berikut :
Syaikh Al-Junaid Al-Baghdadi q.s. kedatangan seorang tamu. Beliau bertanya, “Dari mana saja anda ?”

Tamu itu menjawab, “Aku baru menunaikan ibadah haji”.

“Sejak pertama berangkat dari rumah, apakah kamu telah meninggalkan semua dosa ?” Syaikh Al-Junaid q.s. kembali bertanya.

“Belum”, tamu itu menjawab.

“Berarti engkau tidak sedang dalam perjalanan ruhani. Apakah setiap beristirahat di malam hari, engkau melintasi semua maqam di jalan menuju Allah ?”

“Tidak”

“Berarti engkau tidak menempuh perjalanan setahap demi setahap. Ketika memakai pakaian ihram, apakah engkau melepaskan sifat-sifat manusiawi seperti engkau melepaskan pakaian sehari-hari ?”

“Tidak”

“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji (ihram). Ketika engkau singgah di ‘Arafah, apakah engkau menyaksikan (musyahadah) Allah ?”

“Belum”

“Berarti engkau tidak singgah di ‘Arafah. Ketika ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau telah meniadakan hawa nafsumu ?”

“Belum”

“Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika tawaf mengelilingi Ka’bah, apakah engkau telah menyaksikan keindahan non materil Tuhan ?”

“Belum”

“Berarti engkau tidak mengelilingi Ka’bah. Ketika sa’i antara sofa dan marwa, apakah engkau telah menggapai kesucian dan kebajikan ?”

“Belum“

“Berarti engkau tidak sa’i antara sofa dan marwa. Ketika sampai ke Mina, apakah keinginanmu telah sirna ?”

“Tidak”

“Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika sampai di tempat penyembelihan kurban, apakah engkau mengurbankan segala hawa nafsu ?”

“Tidak”

“Berarti engkau belum berkurban. Ketika melempar batu jumrah, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu ?”

“Belum”

“Berarti engkau belum melaksanakan jumrah. Engkau belum melaksanakan ibadah haji. Kembalilah ! lakukan ibadah haji seperti yang aku gambarkan agar engkau bisa sampai ke maqam Ibrahim”
Dialog itu dapat memberi gambaran kepada kita bobot ibadah haji yang kita kerjakan untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima dengan semua sayareat yang melekat sepatutnya akan merupakan refleksika diri kita dalam aktualiasasi nilai nilai yang ada didalamnya dalam kehaidupan kita sehari hari selama beribadah haji ataupun kehidupan ini. Agar kita mampu meraih kecerdasan rohani yang prima, kepekaan moral yang luhur serta keberdayaan spiritual yang soleh. Dan tiba giliranya sepulang dari haji kita kan menjadi manusia panutan mampu memberikan penecerahan ummat di lingkungan kita. Semoga.


(tentang saya : m.muzayyin rukhan santri pengajian sirojutholibin di ponpes jampes)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan meninggalkan komentar anda di kolom yang telah kami sediakan.......